Untuk kesekian kalinya dalam hidupku yang baru hampir 16 tahun ini, aku bingung, Bingung masalah apa ? Banyak. Aku sendiri bingung (nah lai-lagi bingung) masalahnya apa-apa saja. Di suatu saat aku berpikir begini, besok bisa saja berpikir lain. Plin plan tepatnya. Di suatu saat aku hanya bertindak di luar apa yang telah aku pikirkan dan aku pasti akan menyesal setengah mati kenapa harus begitu ? Hhhh ! Ingin rasanya aku berteriak. Ingin rasanya aku mempunyai sahabat seduka sebahagia. Sayangnya tidak benar-benar ada sahabat yang cocok buatku untuk berbagi rasa. Aku tidak tahu dari sekian temanku, kenapa tidak ada yang bisa ku jadikan teman curhat, hanya tulisan. Sebuah pena dan secarik kertas, hanya netbook dan secangkir teh yang bisa menenangkanku. bahkan aku hanya bisa bercakap sendiri untuk mengurangi beban rasaku.
Aku berargumen sendiri dan membantah sendiri argumenku. Mencari titik keseimbangan dari setiap permasalahanku, tapi semakin aku seperti itu yah semakin aku tidak tahu harus bagaimana. Mungkin alasanku tidak mempunyai sahabat yang benar-benar sahabat berbagi rasa karena aku memang susah menyatakan perasaanku kepada orang lain. Bagaimana perasaanku dan apa yang ku rasakan serta apa yang sebenarnya tengah melandaku. Aku pencerita dan suka mendengar orang bercerita, tapi sifat penceritaku hanya sekedar hal-hal funny yang terjadi padaku, hal-hal aneh atau hal-hal yang biasa setiap hari jarang bercerita tentang perasaanku. Kalaupun aku bercerita itu hanya cerita sambil lalu yang tidak menjurus dalam sebuah cerita keseriusan.
Hhhh ! Aku bingung lagi nih !
Postingan gak jelas ini sebenarnya, ckckck
Rabu, 07 September 2011
Jumat, 01 Juli 2011
Rasa
aku tidak berharap seperti ini, apa yang ku inginkan apa yang ku harapkan tak pernah seperti ini. aku berdoa aku menangis semua dalam kesendirian, tk ada yang tau pasti tak ada yang menghibur. mengapa selalu saja mengalah pada sebuah keegoisan ? selalu saja egois yang menang, apa dia tak pernah memikirkan seonggok hai yang hanya ingin mengecap indahnya kebahagiaan kebersamaan ?
aku bahkan iri pada seekor anak kelinci, dia tersenyum senang, bermain dengan gembira, bersama saudaranya bersama teman seperjuangannya sejak lahir, berjuang bersama untuk kehidupan, berjuang bersama dalam senyuman, berjuang bersama dalam tawa, berjuang bersama dalam riang melompat senang
aku hanya menyelami khayalku sendiri, memikirkan hal indah sampai aku sendiri merasa lelah dan tertidur. aku tersenyum bersama mimpi, dihiasi air di sekujur wajahku, aku senang aku gembira. namun saatku tersadar kembali kenyataan menamparku angin berkata padaku saatnya untuk bangun. aku tak mau, berusaha keras tak mau, aku ingin kembali berkhayal kembali bermimpi
aku bersyukur Tuhan menciptakan rasa, terlebih Tuhan sering menciptakan rasa sedih, terpukul, tertekan ataupun hambar. karena dengan itu semua aku bisa merasakan hatiku tak sekeras baja jadinya, dan aku pun dapat tampak tersenyum senang penuh kepuasan ketika rasa itu menghilang, ketika terganti dengan rasa senang, terganti dengan rasa gembira. aku belajar dari apa yang ku rasakan dan aku menulis dari apa yang ku rasakan pula
widya_sp
Selasa, 10 Mei 2011
Mengapa Semua Terlalu Egois ?
Sampai saat ini aku tidak tau mengapa egois itu harus menang dari segalanya. Kenapa aku bilang egois harus menangdari segalanya ? Karena banyak orang-orang yang lebih mementingkan ego masing-masing. Nggak munafik, aku juga terkadang egois bahkan bukan terkadang sering malah. Tapi seseringnya aku egois, sesering itu pula aku merasa menyesal atas keegoisanku. Aku menyesal kenapa aku harus bertindak egois ? Kenapa aku tidak berpikir dulu sebelum bertindak untuk mengambil keputusan apa yan ingin ku perbuat. Aku selalu berusaha agar egoku bisa kalah dan menjadi daftar sifat paling bawah di antara segelintir sifatku, dan aku selalu berdoa agar aku bisa berguna bagi orang lain, aku bisa bermanfaat bagi orang lain, aku bisa membantu orang lain dengan sepenuh hatiku dan dengan hati ikhlasku. Tetapi aku tidak berdoa agar orang-orang memanfaatkan kebaikanku, jujur aku tidak suka, dan aku yakin sebagian besar orang di dunia ini pasti tidak suka kebaikannya di manfaatkan.
Itulah yang aku alami. Orang-orang memanfaatkan kebaikan orang lain atas dasar keegoisannya. Tidak pernah berpikir bagaimana perasaan orang yang dia manfaatkan itu, tidak pernah berpikir apakah orang itu suka atau tidak. Masih mending kalau orang itu memang benar-benar berhati emas, benar-benar tak peduli keegoisan orang, yang penting dia berbuat baik, itu ku rasa tak jadi masalah. Tapi apakah tak begitu punya hati nuranikah orang yang memanfaatkan itu ? Apakah dia tidak erpikir ? Apakah dia tidak punya malu ?
Aku tidak pintar dengan masalah seperti ini, tapi aku hanya tidak suka. Apakah egois itu bisa dimusnahkan ? Agar orang-orang bisa benar-benar hidup bersosialisasi dengan lebih baik lagi. Bisa saling mebantu sama lain memanfaatkan satu sama lain tanpa ada yang merasa dirugikan.
Aku selalu berharap sepeti itu. Aku selalu berharap suatu saat egois dalam diriku maupun orang-orang di sekitarku atau bahkan di dunia ini bisa lenyap begitu aja. Diganti dengan rasa sayang terhadap satu sama lain manusia. Apakah aku salah berpikir seperti itu ?
Itulah yang aku alami. Orang-orang memanfaatkan kebaikan orang lain atas dasar keegoisannya. Tidak pernah berpikir bagaimana perasaan orang yang dia manfaatkan itu, tidak pernah berpikir apakah orang itu suka atau tidak. Masih mending kalau orang itu memang benar-benar berhati emas, benar-benar tak peduli keegoisan orang, yang penting dia berbuat baik, itu ku rasa tak jadi masalah. Tapi apakah tak begitu punya hati nuranikah orang yang memanfaatkan itu ? Apakah dia tidak erpikir ? Apakah dia tidak punya malu ?
Aku tidak pintar dengan masalah seperti ini, tapi aku hanya tidak suka. Apakah egois itu bisa dimusnahkan ? Agar orang-orang bisa benar-benar hidup bersosialisasi dengan lebih baik lagi. Bisa saling mebantu sama lain memanfaatkan satu sama lain tanpa ada yang merasa dirugikan.
Aku selalu berharap sepeti itu. Aku selalu berharap suatu saat egois dalam diriku maupun orang-orang di sekitarku atau bahkan di dunia ini bisa lenyap begitu aja. Diganti dengan rasa sayang terhadap satu sama lain manusia. Apakah aku salah berpikir seperti itu ?
Senin, 21 Maret 2011
Aku Pergi
Di sini, di sudut dalam kesepian
Aku menangis ...
Kau tau ?
Aku selalu menyayangimu, selalu melihatmu
Ada di sini,
Membayangkan senyum indahmu
Dedaunan di sinipun ikut menangis
Memaksaku menahan air mata dan berlari ke arahmu
Namun, kau tau ?
Aku tak bisa !
Jangan tanya ! Jangan tanya mengapa !
Aku tak suka !
Biarkan saja hanya hatiku, Tuhan, dan alam yang tau
Maafkan ...
Maafkan burung ini yang patah sayapnya
Kehilangan arahnya
Dan takkan pernah bisa kembali
Kau akan tenang, sayang ..
Kau akan tenang ...
Berjanjilah kau akan baik-baik saja
Biarkan aku pergi tanpa harus melihat ke belakang
Ku mohon ...
Jangan terbang mencariku
Jangan turun dan menghentikan kepakan sayapmu,
hanya untuk mencari burung yang terjatuh
Tak ada gunanya !!
Story by : Eka Soraya
Created By : Widya_sp
Aku menangis ...
Kau tau ?
Aku selalu menyayangimu, selalu melihatmu
Ada di sini,
Membayangkan senyum indahmu
Dedaunan di sinipun ikut menangis
Memaksaku menahan air mata dan berlari ke arahmu
Namun, kau tau ?
Aku tak bisa !
Jangan tanya ! Jangan tanya mengapa !
Aku tak suka !
Biarkan saja hanya hatiku, Tuhan, dan alam yang tau
Maafkan ...
Maafkan burung ini yang patah sayapnya
Kehilangan arahnya
Dan takkan pernah bisa kembali
Kau akan tenang, sayang ..
Kau akan tenang ...
Berjanjilah kau akan baik-baik saja
Biarkan aku pergi tanpa harus melihat ke belakang
Ku mohon ...
Jangan terbang mencariku
Jangan turun dan menghentikan kepakan sayapmu,
hanya untuk mencari burung yang terjatuh
Tak ada gunanya !!
Story by : Eka Soraya
Created By : Widya_sp
Sabtu, 29 Januari 2011
Berbeda
Untuk sesaat, angin yang berhembus kencang itu selalu membuatku melayang. Entah sejak kapan aku juga tidak tau. Yang ku tahu aku hanya merasakannya, merasa nyaman, merasa aman dan merasa bahagia....
Jangan tanya aku, mengapa ? Jangan tanya aku, dari mana ? Jangan tanya aku, aku harus bagaimana ? aku bahkan tak tau apa yang sedang terjadi.
Hanya terus merenung, hanya terus melamun dan terus berdiam. aku merasa tak berguna. Aku bahkan merasa aku ini sampah ! Oh ! Bisa beri aku petunjuk ?
Ketika galau itu sudah tiba, ku rasa semua yang ku lakukan tak berguna sama sekali. Mulai bertanya-tanya apakah aku salah ?
Kini dugaanku benar, dia beralih. Seakan terus menghilang dan aku menangis.
Menangis dalam kesedihan, menangis dalam kehampaan. Seakan pula dia tak peduli. Terus membawa cerita yang menyesakkan dada, membuat isakanku terus mengalir.
Taukah dia ? Entahlah.
Tapi, suatu waktu itu terjadi. Tak terduga dia bagai menghujam duniaku dengan bongkahan es keras nan dingin dengan ganas. Membuatku beku bahkan air mataku mengering. Dia tau semuanya. Apa yang ku lakukan ? Aku hanya masih terpaku tak tau mau berucap apa tak tau harus bagaimana. Inilah aku manusia yang bodoh.
Akhirnya aku tak berani mengaku. Aku hanya berpura-pura bercanda dan merasa dewasa, merasa tegar. Padahal lemah. Yah. Jangan bilang aku bodoh ! Jangan menyimpulkan aku bodoh ! Meski memang begitu tapi aku hanya tak mau bermasalah. Tak mau jatuh lebih dalam tak mau terjebak dalam jurang.
Dia terus menghilang. Meskipun sakit, aku bersyukur. Karna saat dia muncul meskipun senang aku juga sakit mengingat apa yang telah dia lakukan. Oh Tuhan ! Ini terlalu aneh untuk seorang anak ingusan sepertiku. Tapi dulu itu dia tak peduli Tuhan! Dia terus mencecokiku dengan caranya yang membuatku senang, terus membuatku terhibur hingga aku melayang dan akhirnya tak kuasa menahan jatuh.
Berusaha untuk terus melupakan. Aku bisa ! Aku yakin aku bisa !
Aku mulai bisa kawan ! Tapi dia datang lagi. Membawa kisahnya yang awalnya manis berubah menjadi pahit kepadaku. Dia mengisahkan kisahnya, dan aku ? Masih ada getaran itu walau halus. Tapi aku tak peduli. Tau apa yang ku pikirkan saat itu ? Dia adalah orang yang paling bodoh yang pernah aku kenal. Dan itu membuatku senang, kenapa ? Karna aku bisa melupakan getaran itu dengan berpikir seperti itu kepadanya. Jahat ? Biarkan. Toh pikiran itu hanya mampu menguasai otakku, bukan otak orang lain
Jangan tanya aku, mengapa ? Jangan tanya aku, dari mana ? Jangan tanya aku, aku harus bagaimana ? aku bahkan tak tau apa yang sedang terjadi.
Hanya terus merenung, hanya terus melamun dan terus berdiam. aku merasa tak berguna. Aku bahkan merasa aku ini sampah ! Oh ! Bisa beri aku petunjuk ?
Ketika galau itu sudah tiba, ku rasa semua yang ku lakukan tak berguna sama sekali. Mulai bertanya-tanya apakah aku salah ?
Kini dugaanku benar, dia beralih. Seakan terus menghilang dan aku menangis.
Menangis dalam kesedihan, menangis dalam kehampaan. Seakan pula dia tak peduli. Terus membawa cerita yang menyesakkan dada, membuat isakanku terus mengalir.
Taukah dia ? Entahlah.
Tapi, suatu waktu itu terjadi. Tak terduga dia bagai menghujam duniaku dengan bongkahan es keras nan dingin dengan ganas. Membuatku beku bahkan air mataku mengering. Dia tau semuanya. Apa yang ku lakukan ? Aku hanya masih terpaku tak tau mau berucap apa tak tau harus bagaimana. Inilah aku manusia yang bodoh.
Akhirnya aku tak berani mengaku. Aku hanya berpura-pura bercanda dan merasa dewasa, merasa tegar. Padahal lemah. Yah. Jangan bilang aku bodoh ! Jangan menyimpulkan aku bodoh ! Meski memang begitu tapi aku hanya tak mau bermasalah. Tak mau jatuh lebih dalam tak mau terjebak dalam jurang.
Dia terus menghilang. Meskipun sakit, aku bersyukur. Karna saat dia muncul meskipun senang aku juga sakit mengingat apa yang telah dia lakukan. Oh Tuhan ! Ini terlalu aneh untuk seorang anak ingusan sepertiku. Tapi dulu itu dia tak peduli Tuhan! Dia terus mencecokiku dengan caranya yang membuatku senang, terus membuatku terhibur hingga aku melayang dan akhirnya tak kuasa menahan jatuh.
Berusaha untuk terus melupakan. Aku bisa ! Aku yakin aku bisa !
Aku mulai bisa kawan ! Tapi dia datang lagi. Membawa kisahnya yang awalnya manis berubah menjadi pahit kepadaku. Dia mengisahkan kisahnya, dan aku ? Masih ada getaran itu walau halus. Tapi aku tak peduli. Tau apa yang ku pikirkan saat itu ? Dia adalah orang yang paling bodoh yang pernah aku kenal. Dan itu membuatku senang, kenapa ? Karna aku bisa melupakan getaran itu dengan berpikir seperti itu kepadanya. Jahat ? Biarkan. Toh pikiran itu hanya mampu menguasai otakku, bukan otak orang lain
Langganan:
Postingan (Atom)